Sabtu, 09 April 2011

Konstribusi Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Kinerja Mengajar Guru Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas VI di Sekolah Dasar se Kecamatan Lembang Kabu

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian

Isu tentang mutu pendidikan di Indonesia masih rendah dan belum dapat memenuhi tuntutan masyarakat bisa dilihat dari prestasi belajar siswa yang belum memuaskan. Pendidikan pada dasarnya merupakan proses mencerdasarkan kehidupan bangsa dan pengembangan manusia Indonesia seutuhnya, dijelaskan dalam Sisdiknas pasal 3 Bab 3 (2003.5) :

Bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk wadah serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdasarkan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa berakhlak mulia ,sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Jika dikaitkan dengan tujuan tersebut ternyata fakta di lapangan masih jauh dari harapan contohnya:

1. Dalam akhlah. tidak jarang saya mendengar anak berkata kasar bahkan bahasa binatang keluar dari mulutnya padahal dalam konteks ngobrol biasa, kurangnya rasa hormat pada guru dan orang yang lebih tua, dan dalam spiritual tidak sedikit anak lulusan sekolah dasar yang tidak bisa mengaji dan sholat dibuktikan pada waktu ujian praktek agama ada anak yang sama sekali tidak bisa mengaji dan tidak hapal surat- surat pendek yang biasa digunakan dalam waktu sholat.

2. Dalam pengetahuan ( knowledge ) melihat hasil ujian negara yang menurun hasilnya.

3. Dalam kecakapan, kreatif dan kemandirian ( apektif ) juga semakin kurang dikarenakan keadaan lingkungan yang kurang menunjang, misalnya di keluarga anak yang terlalu dimanja dan salah asuhan karena selalu bagaimana pengasuhnya ( orang tua yang sibuk ), di sekolah guru dalam proses pembelajarannya tidak sedikit yang masih menganut DDCH ( duduk,dengar, catat, dan hapal ) serta tidak menggunakan sarana dan prasarana yang menunjang dikarenakan berbagai hal.

4. Dalam tanggung jawab sangat minim contohnya jika diberi tugas masih banyak siswa yang tidak tepat waktu mengerjakannya bahkan ada yang sama sekali tidak membuatnya dengan berbagai alasan.

Bertitik tolak pada uraian-uraian diatas, maka penulis akan mengkaji berbagai faktor yang berhubungan dengan prestasi belajar siswa, namun mengingat berbagai keterbatasan, maka dalam penelitian ini hanya difokuskan pada faktor : Kepala Sekolah, guru, dan siswa. Begitu pula mengenai prestasi belajar siswa, dalam penilitian ini dibatasi pada perolehan nilai yang dicapai siswa.

Sebagai pengelola pendidikan Kepala Sekolah bertanggung jawab penuh dalam mengelola SDM, yang diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas sesuai dengan tuntutan masyarakat. Kemampuan Kepala Sekolah dalam mengelola sekolahnya sangat menentukan prestasi belajar, dan merupakan kunci keberhasilan belajar siswa di sekolah, yang salah satunya adalah perolehan Nilai.

Menurut Dinas Pendidikan ( dulu :Depdikbud) dalam E. Mulyasa (2009.97-98) telah menetapkan bahwa kepala sekolah harus mampu malaksanakan pekerjaannya sebagai edukator, manajer, administrator, dan supervisor ( EMAS). dalam perkembangan zaman, kepala sekolah juga harus mampu sebagai leader, innovator, dan monivator ( EMASLIM ). untuk kedepannya harus mampu berperan sebagai figure dan mediator ( EMASLIM-FM )

Faktor lain yang menetukan prestasi belajar siswa adalah guru. Guru merupakan faktor utama dalam melaksanakan proses belajar mengajar disekolah. Proses belajar mengajar adalah aktivitas yang paling penting di sekolah yang merupakan proses terjadinya interaksi yang optimal antara guru dan siswa. Selain mengajar sejumlah mata pelajaran, guru juga mendidik agar para siswa tidak hanya menyerap materi pelajaran dengan optimal tetapi mempunyai sikap, watak, dan kepribadian yang baik. Oleh karena itu, guru akan merasa puas bila dapat melaksanakan proses belajar mengajar dengan baik, seperti dapat menyiapkan materi, dapat mengajar sesuai dengan yang direncanakan dan para siswa dapat menyerap apa yang diajarkan. Selain itu, guru juga akan merasa puas jika siswa dapat mencapai prestasi yang tinggi baik dalam mata pelajaran maupun dalam kegiatan ekstra kurikuler yang bias mengangkat nama baik sekolah.

Peranan dan kompetensi guru dalam proses belajar mengajar meliputi banyak hal sebagaimana dikemukakan oleh Adam & Decey dalam Basic Principles of Student Teaching,dalamUzer Usman (2009. 9) antara lain :

“guru sebagai pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, Pengatur lingkungan, partisipan,ekspeditor, perencana, supervisor, motivator, dan konselor.”

yang akan dikemukakan disini adalah peranan yang dianggap paling dominan dan dan diklasifikasikan sebagai berikut :

· Guru sebagai demonstrator, guru hendaknya senantiasa menguasai materi pembelajaran dan senantiasa mengembangkan kemampuannya dala bidang ilmu ya ng dimilikinya, karena hal ini akan sangat menentukan hasil belajar yang dicapai peserta didik.

· Guru sebagai pengelola kelas, guru bertanggunng jawab memelihara lingkungan fisik kelasnya, agar senantiasa menyenangkanuntuk belajar dan mengarahkan serta membimbing proses-proses intelektual, sosial emosional moral, dan spiritual di dalam kelas serta mengembangkan kompetensi dan kebiasaan bekerja dan belajar secara efektif dikalangan peserta didik.

· Guru sebagai fasilitator, peran guru sbagai fasilitator erat kaitannya dengan peran sebagai pengelola kelas, dalam hal ini guru sebagai fasilitator erat kaitannya dengan peran sebagai pengelola kelas, dalam hal ini guru harus mampu dan senantiasa berusaha untuk memberikan kemudahan belajar bagi peserta didik agar dapat membentuk kompetensi dan mencapai tujuan secar optimal.

· Guru sebagai mediator, guru tidak hanyan sebagai penyampai imformasi dalam pembelajaran, tetapi sebagai perantara dalam hubungan manusia antar manusia dengan peserta didik.

· Guru sebagai evaluator, guru harus mampu menilai proses dan hasil belajar yang telah dicapai, serta memberikan umpan balik terhadap keefektifan pembelajaran yang telah dilakukan.

Pentingnya kinerja mengajar dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang optimal, merupakan salah satu kekuatan eksternal yang dapat digunakan oleh seorang guru untuk melaksanakan peranannya dalam mengajar dapat teraktualisasikan.

Kepemimpinan kepala sekolah dalam merencanakan, mengorganisasikan,mengarahkan serta memanfaatkan semua potensi atau semua sumber daya yang ada sangat menentukan keberhasilan proses belajar mengajar disekolah. Kepala sekolah merubah ;potensi yang ada di sekolah, terutama kinerja mengajar guru, untuk pencapaian prestasi belajar siswa yang optimal. Hal ini kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja mengajar guru mampu melaksanakan dan mengaktualisasikan keberhasilan proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan.

Dengan adanya berbagai fenomena dasar tersebut, kondisi seperti inilah yang menarik perhatian penulis untuk mengadakan penelitian dalam rangka memperoleh gambaran tentang : Konstribusi Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Kinerja Mengajar Guru Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas VI di Sekolah Dasar se Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat.

1.2. Identifikasi Masalah dan Rumusan Masalah

1.2.1. Identifikasi Masalah

Sebagai penyebab fenomena seperti diuraikan di atas antara lain:

1. Kurangnya sarana dan prasarana pendidikan yang ada kaitannya dengan laboratorium, perpustakaan, dalam rangka meningkatkan kinerja mengajar guru.

2. Kurangnya motivasi guru terhadap siswa dalam pembelajaran

3. kepemimpinan kepala sekolah kurang optimal dalam melaksanakan kepemimpinannya sebagai educator, manager, administrator, leader, innovator, dan motivator terhadap peserta didik.

4. Kinerja mangajar guru belum dapat dilaksanakan secara optimal dalam merencanakan program pembelajaran, melaksanakan program pembelajaran dan melaksanakan evaluasi hasil pembelajaran terhadap peserta didik.

5. Nilai prestasi belajar siswa kurang optimal setiap tahun, khususnya dikelas VI Sekolah Dasar se kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat.

1.2.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka focus penelitian ini diarahkan pada konstribusi kepala sekolah dan kinerja mengajar guru terhadap prestasi belajar siswa kelas VI Sekolah Dasar. Atas dasar hal tersebut penulis membatasi masalah penelitian ini sebagai berikut :

  1. Apakah kepemimpinan kepala sekolah dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa
  2. Bagaimana kinerja mengajar guru untuk mempengaruhi prestasi belajar siswa
  3. Seberapa besar konstribusi secara bersama-sama kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja mengajar guru terhadap prestasi belajar siswa

1.3. Tujuan Penelitian

Secara umum pemelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang konstribusi kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja mengajar guru terhadap prestasi belajar siswa kelas VI Sekolah Dasar.

Sedangkan secara lebih khusus penelitian ini difokuskan :

a. Untuk mengetahui konstribusi kepemimpinan kepala sekolah terhadap prestasi belajar siswa .

b. Untuk mengetahui konstribusi kinerja mengajar guru terhadap prestasi belajar siswa .

c. Untuk mengetahui hubungan kepemimpinan kepala sekolahn dan kinerja mengajar guru terhadap presasi belajar siswa.

1.4. Manfaat Penelitian

1. Sarana pengembangan kepemimpinan kepala sekolah.

2. Bagi Guru : Dapat melaksanakan tugas- tugas yang dapat digunakan untuk lebih meningkatkan kinerja mengajar guru

3. Bagi Siswa : Akan memperoleh pelajaran yang bermakna dan lebih mengoptimalkan prestasinya dalam berbagai bidang

4. Bagi Peneliti : Bagi penulis, dapat dijadikan sarana untuk menambah wawasan dan pengalaman khususnya dalam bidang penelaahan dan pengkajian dalam bidang manajemen sumber daya manusia.

5. Bagi institusi , diharapkan penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu bahan masukkan untuk dipertimbangkan dalam membuat kebijakan yang menyangkut prestasi peserta didik, sehingga dapat meningkatkan kinerja guru di SDN Pancasila Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat.

6. Akan terjalin kemitraan yang lebih erat dengan para guru, kepala sekolah, dan siswa sehingga akan dapat mengetahui berbagai kesulitan dan permasalahan yang dihadapi oleh kepala sekolah dan guru- guru dalam meningkatkan kinerja mengajar guru, hal ini sangat bermanfaat untuk dijadikan masukan.

7. Bagi pembaca yang ingin meneliti ulang diharapkan dapat dijadikan bahan tambahan referensi untuk dikaji lebih mendalam dan hasilnya dapat lebih sempurna.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS

1. Kajian Pustaka

2. Kerangka pemikiran

3. Hipotesis

Hipotesis penelitian tersebut adalah sebagai berikut :

1. Kepemimpinan kepala sekolah dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa.

2. Kinerja mengajar guru sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa.

3. Terdapat hubungan yang erat kaitannya kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja mengajar guru terhadap prestasi belajar siswa

Jumat, 08 April 2011

Menjadi Guru yang Bermutu

Menjadi Guru yang Bermutu

Guru adalah salah satu unsur manusia dalam proses pendidikan.[1] Dalam proses pendidikan di sebuah sekolah, misalnya sekolah Islam, guru memegang tugas ganda yaitu sebagai pengajar dan pendidik. Sebagai pengajar guru bertugas menuangkan sejumlah bahan pelajaran ke dalam otak anak didik, sedangkan sebagai pendidik guru bertugas membimbing dan membina anak didik agar menjadi manusia susila yang cakap, aktif, kreatif, mandiri, dan berakhlak mulia. Syaiful Bahri Djamarah dalam Psikologi Belajar berpendapat bahwa baik mengajar maupun mendidik merupakan tugas dan tanggung jawab guru sebagai tenaga profesional.[2] Oleh sebab itu, tugas yang berat dari seorang guru ini pada dasarnya hanya dapat dilaksanakan oleh guru yang memiliki kompetensi profesional yang tinggi.

Guru memegang peranan sentral dalam proses belajar mengajar, untuk itu mutu pendidikan di suatu lembaga pendidikan Islam sangat ditentukan oleh kemampuan yang dimiliki seorang guru dalam menjalankan tugasnya. Menurut Zainal Aqib, guru merupakan faktor penentu bagi keberhasilan pendidikan di lembaga pendidikan Islam, karena guru merupakan sentral serta sumber kegiatan belajar mengajar.[3] Lebih lanjut dia menyatakan bahwa guru merupakan komponen yang berpengaruh dalam peningkatan mutu suatu proses pendidikan di lembaga pendidikan Islam.[4] Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan atau kompetensi profesional dari seorang guru sangat menentukan mutu pendidikan. Kompetensi profesional guru dalam hal ini guru lembaga pendidikan Islam, termasuk Madrasah Ibtidaiyah negeri maupun swasta di wilayah Jakarta masih relatif rendah. Berdasarkan hasil Tes Kompetensi Guru yang dilakukan Depertemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama yang bekerja sama dengan Pusat Penilaian Pendidikan pada Tahun 2003, menunjukkan bahwa rata-rata nilai kompetensi guru di wilayah Jakarta hanya mencapai 42,25 %. Angka ini masih relatif jauh di bawah standar nilai kompetensi minimal yang diharapkan yaitu 75 %.( Arni Hayati, S.Pd).

Senin, 21 Maret 2011

ngemban pancen

angin isuk- isuk nu nyelecep kana tulang
halimun nu ngadingding sapanjang jalan,
jalan nutarahal, nanjak mudun, arula arileu,
kalan- kalan dipapag ku monyet- monyet nu turun gunung ngajejer sisi jalan
nambahan kawegah dina jero dada, tapi. . .
kumaha da geus tugas nu kudu dijalankeun,
pancen nu kudu dilaksanakeun,
tanggung jawab nu kudu di estokeun,
teu meunang wegah, teu meunang embung, komo jeung ngamomorekeun mah
kawajiban ngemban tugas ti nagara
ngabingbing, ngatik, ngadidik, sirung- sirung bangsa
ngamajukeun dunya pendidikan
kobarkeun sumanget nu ngagedur
doa jeung harepan nyuluhan sumanget
mudah- mudahan Alloh ngaridoan.Amin

Sabtu, 12 Maret 2011

curhatku

segala puji ku panjatkan pada Ilahi Robbi bahwa sanya Allah telah memberi amanah berupa gelar M.M.Pd. meski dengan nilai jauh dari harapan,hanya sangat memuaskan. tadinya sidang pertama itu inginnya cumlaude tapi sayang berbagai alasan dan .......harapan itu musnah, tapi meski agak kecewa mudah- mudahan gelar ini dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari- hari serta diamalkan.terimakasih kepada semua dosen dan semua unsur yang ada di UNPAS yang telah menjadikan saya M.M.Pd mudah- mudahan kebaikannya dibalas oleh Allah SWT,tak lupa pada suamiku tercinta yang senantiasa memberi dorongon baik moril maupun materil dan selalu siap siaga kapanpun diperlukan baik tenaga maupun pikirannya. pada anak-anakku Eka&kel, Erismaya, suharti hikmayani yang selalu membantu bila ada tugas, serta anakku si bungsu yang selalu mengerti bila ditinggalkan kuliah,serta tak lupa pada kedua orang tuaku yang selalu mendoakan agar anaknya selalu sehat dan berhasil apa yang di cita- citakannya.Terimakasih juga kuucapkan kepada semua yang telah membantu dalam penyelesaian kuliah ini terutama Dr Tita Rosita,M.Pd.selaku pengawas tk /Sd di kecamatan Lembang, Akhmad Sopandi,S.Pd selaku kepala sekolah di SD Pancasila,teman-temanku baik yang seperjuangan di UNPAS maupun Guru- guru di SD Pancasila, Hj. Uce ,juga tak lupa kepada Pak Wid,Ka UPTD kec Lembang dan Stapnya, Para pengawas, serta semua guru dan kepala sekolah yang ada di kec Lembang, semua yang telah berjasa dan tidak bisa disebutkan satu persatu jazakumullahu khoiron katsiron.
Selain itu Allah telah menganugrahkan jabatan sebagai kepala sekolah, meski tantangan dan rintangan telah terbentang bahkan duka dan kekecewaan telah dialami pengorbanan lahir bathin telah dirasakan ,pahit getirny selama perjalanan menuju jabatan ini terjal dan banyak memakan ......,mudah- mudahan amanah ini dapat saya jalani dengan baik dan menjunjung nilai- nilai kebaikan serta dijauhkan dari segala keburukan.Amin

artikel tendik

PENGARUH KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN KINERJA MENGAJAR GURU TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA

TUGAS ARTIKEL MANAJEMEN MUTU SEKOLAH(DR. Hj. Evie Saleha, M.PD)
Oleh :
SITI MULYANI
098232004








PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN
UNIVERSITAS PASUNDAN
Jl. Tamansari 6-8 (Gd. 1 Lantai II) Bandung Telp/Fax. (022) 4235614


Sejalan dengan tantangan kehidupan global, pendidikan merupakan hal yang sangat penting karena pendidikan salah satu penentu mutu Sumber Daya Manusia. Dimana dewasa ini keunggulan suatu bangsa tidak lagi ditandai dengan melimpahnya kekayaan alam, melainkan pada keunggulan Sumber Daya Manusia (SDM). Dimana mutu Sember Daya Manusia (SDM) berkorelasi positif dengan mutu pendidikan, mutu pendidikan sering diindikasikan dengan kondisi yang baik, memenuhi syarat, dan segala komponen yang harus terdapat dalam pendidikan, komponen-komponen tersebut adalah masukan, proses, keluaran, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana serta biaya.
Mutu pendidikan tercapai apabila masukan, proses, keluaran, guru, sarana dan prasarana serta biaya apabila seluruh komponen tersebut memenuhi syarat tertentu. Namun dari beberapa komponen tersebut yang lebih banyak berperan adalah tenaga kependidikan yang bermutu yaitu yang mampu menjawab tantangan-tantangan dengan cepat dan tanggung jawab. Tenaga kependidikan pada masa mendatang akan semakin kompleks, sehingga menuntut tenaga kependidikan untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian penguasaan kompetensinya. Pendidikan yang bermutu sangat membutuhkan tenaga kependidikan yang professional.
Tenaga kependidikan mempunyai peran yang sangat strategis dalam pembentukan pengetahuan, ketrampilan, dan karakter peserta didik. Oleh karena itu tenaga kependidikan yang professional akan melaksanakan tugasnya secara professional sehingga menghasilkan tamatan yang lebih bermutu. Menjadi tenaga kependidikan yang profesional tidak akan terwujud begitu saja tanpa adanya upaya untuk meningkatkannya, adapun salah satu cara untuk mewujudkannya adalah dengan pengembangan profesionalisme ini membutuhkan dukungan dari pihak yang mempunyai peran penting dalam hal ini adalah kepala sekolah, dimana kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan yang sangat penting karena kepala sekolah berhubungan langsung dengan pelaksanaan program pendidikan di sekolah.
Ketercapaian tujuan pendidikan sangat bergantung pada kecakapan dan kebijaksanaan kepemimpinan kepala sekolah yang merupakan salah satu pemimpin pendidikan. Karena kepala sekolah merupakan seorang pejabat yang profesional dalam organisasi sekolah yang bertugas mengatur semua sumber organisasi dan bekerjasama dengan guru-guru dalam mendidik siswa untuk mencapai tujuan pendidikan. Dengan keprofesionalan kepala sekolah ini pengembangan profesionalisme tenaga kependidikan mudah dilakukan karena sesuai dengan fungsinya, kepala sekolah memahami kebutuhan sekolah yang ia pimpin sehingga kompetensi guru tidak hanya mandeg pada kompetensi yang ia miliki sebelumnya, melainkan bertambah dan berkembang dengan baik sehingga profesionalisme guru akan terwujud.
Pada dasarnya terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan, antara lain: guru, siswa, sarana dan prasarana, lingkungan pendidikan, kurikulum. Dari beberapa faktor tersebut, guru dalam kegiatan proses pembelajaran di sekolah menempati kedudukan yang sangat penting dan tanpa mengabaikan faktor penunjang yang lain, guru sebagi subyek pendidikan sangat menentukan keberhasilan pendidikan itu sendiri. Studi yang dilakukan Heyneman & Loxley pada tahun 1983 di 29 negara menemukan bahwa di antara berbagai masukan (input) yang menentukan mutu pendidikan (yang ditunjukkan oleh prestasi belajar siswa) sepertiganya ditentukan oleh guru. Peranan guru makin penting lagi di tengah keterbatasan sarana dan prasarana sebagaimana dialami oleh negara-negara sedang berkembang. Lengkapnya hasil studi itu adalah : di 16 negara sedang berkembang, guru memberi kontribusi terhadap prestasi belajar sebesar 34%, sedangkan manajemen 22%, waktu belajar 18% dan sarana fisik 26%. Di 13 negara industri, kontribusi guru adalah 36%, manajemen 23%, waktu belajar 22% dan sarana fisik 19% (Dedi Supriadi, 1999: 178). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nana Sudjana (2002: 42) menunjukkan bahwa 76,6% hasil belajar siswa dipengaruhi oleh kinerja guru, dengan rincian: kemampuan guru mengajar memberikan sumbangan 32,43%, penguasaan materi pelajaran memberikan sumbangan 32,38% dan sikap guru terhadap mata pelajaran memberikan sumbangan 8,60%.
Harus diakui bahwa guru merupakan faktor utama dalam proses pendidikan. Meskipun fasilitas pendidikannya lengkap dan canggih, namun bila tidak ditunjang oleh keberadaan guru yang berkualitas, maka mustahil akan menimbulkan proses belajar dan pembelajaran yang maksimal (Neni Utami. 2003: 1). Guru sebagai pelaksana pendidikan nasional merupakan faktor kunci. Peningkatan prestasi belajar siswa akan dipengaruhi oleh kualitas proses pembelajaran di kelas. Oleh karena itu untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, proses pembelajaran di kelas harus berlangsung dengan baik, berdaya guna dan berhasil guna. Proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik apabila didukung oleh guru yang mempunyai kompetensi dan kinerja yang tinggi, karena guru merupakan ujung tombak dan pelaksana terdepan pendidikan anak-anak di sekolah (Depdikbud, 1991/1992), dan sebagai pengembang kurikulum.
Guru yang mempunyai kinerja yang baik akan mampu menumbuhkan semangat dan motivasi belajar siswa yang lebih baik, yang pada akhirnya akan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. Motivasi belajar siswa dapat dibedakan menjadi dua, yaitu motivasi intern (internal motivation) dan motivasi ekstern (external motivation). Motivasi intern muncul karena adanya faktor dari dalam, yaitu karena adanya kebutuhan, sedangkan motivasi ektern muncul karena adanya faktor dari luar, terutama dari lingkungan. Dalam kegiatan pembelajaran faktor eksternal yang mampu mempengaruhi motivasi belajar siswa adalah kinerja guru.
Ukuran kinerja guru terlihat dari rasa tanggungjawabnya menjalankan amanah, profesi yang diembannya, rasa tanggungjawab moral dipundaknya. Semua itu akan terlihat kepada kepatuhan dan loyalitasnya di dalam menjalankan tugas keguruannya di dalam kelas dan tugas kependidikannya di luar kelas. Sikap ini akan dibarengi pula dengan rasa tanggungjawabnya mempersiapkan segala perlengkapan pengajaran sebelum melaksanakan proses pembelajaran. Selain itu, guru juga sudah mempertimbangkan akan metodologi yang akan digunakan, termasuk alat media pendidikan yang akan dipakai, serta alat penilaian apa yang digunakan di dalam pelaksanaan evaluasi. Kinerja guru dari hari kehari, minggu ke minggu dan tahun ke tahun terus ditingkatkan. Guru punya komitmen untuk terus dan terus belajar, tanpa itu maka guru akan kerdil dalam ilmu pengetahuan, akan tetap tertinggal akan akselerasi zaman yang semakin tidak menentu. Apalagi pada kondisi kini kita dihadapkan pada era global, semua serba cepat, serba dinamis, dan serba kompetitif.
Kinerja guru akan menjadi optimal, bilamana diintegrasikan dengan komponen persekolahan, apakah itu kepala sekolah, guru, karyawan maupun anak didik. Kinerja guru akan bermakna bila dibarengi dengan nawaitu yang bersih dan ikhlas, serta selalu menyadari akan kekurangan yang ada pada dirinya, dan berupaya untuk dapat meningkatkan atas kekurangan tersebut sebagai upaya untuk meningkatkan kearah yang lebih baik. Kinerja yang dilakukan hari ini akan lebih baik dari kinerja hari kemarin, dan tentunya kinerja masa depan lebih baik dari kinerja hari ini.
Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:
1. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik.
Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siwa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
2. Hadiah
Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
3. Saingan/kompetisi
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
4. Pujian
Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.
5. Hukuman. Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.
6. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar
Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.
7. Membentuk kebiasaan belajar yang baik
8. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
9. Menggunakan metode yang bervariasi, dan
10. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran
Ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi akademik seseorang, yaitu faktor internal/pribadi dan eksternal/lingkungan (Gage & Berliner, 1992; Winkel, 1997).

Faktor internal
a. Inteligensi
Taraf inteligensi seseorang dapat tercermin dalam prestasi sekolahnya di semua mata pelajaran (Winkel, 1997). Jadi, ada korelasi antara inteligensi dengan kesuksesan di sekolah (Gage & Berliner, 1992).
Peserta didik dengan taraf inteligensi yang tinggi diharapkan dapat mencapai prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan peserta didik yang memiliki taraf inteligensi yang lebih rendah. Namun inteligensi bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan prestasi akademik karena masih ada faktor lainnya seperti motivasi dan kepribadian serta faktor eksternal.
b. Motivasi
Winkel (1997) mengatakan bahwa motivasi merupakan daya penggerak yang menjadi aktif pada saat-saat tertentu di mana ada kebutuhan untuk mencapai tujuan. Sedangkan Gage dan Berliner (1992) menjelaskan bahwa motivasi adalah sesuatu yang menggerakkan individu dari perasaan bosan menjadi berminat untuk melakukan sesuatu. Tercakup di sini adalah motivasi untuk mencapai kelulusan dan motivasi untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi Sukadji (2000). Motivasi merupakan tenaga dorong selama tahapan proses belajar yang berfungsi untuk (Sukadji, 2000):
1. Mencari dan menemukan informasi mengenai hal-hal yang dipelajari
2. Menyerap informasi dan mengolahnya
3. Mengubah informasi yang didapat ini menjadi suatu hasil (pengetahuan, perilaku, keterampilan, sikap, dan kreativitas.
Secara umum, motivasi terbagi menjadi motivasi internal dan eksternal. Motivasi internal mengacu pada diri sendiri, misalnya kegiatan belajar dihayati dan merupakan kebutuhan untuk memuaskan rasa ingin tahu. Motivasi eksternal mengacu pada faktor di luar dirinya. Siswa dengan motivasi eksternal akan membutuhkan adanya pemberian pujian atau pemberian nilai sebagai hadiah atas prestasi yang diraihnya (Djiwandono, 2002). Kedua komponen ini bersifat kontekstual, artinya ada pada seseorang sehubungan dengan suatu kegiatan yang dilakukan. Oleh karena itu motivasi dapat berubah sesuai dengan waktu. Menurut McLelland dan Atkinson (dalam Djiwandono, 2002), motivasi yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah motivasi berprestasi, di mana seseorang cenderung berjuang untuk mencapai sukses atau memilih suatu kegiatan yang berorientasi untuk tujuan sukses.
c. Kepribadian
Kepribadian merupakan suatu organisasi yang dinamis dari sistem psikofisik seseorang yang menentukan bagaimana individu dapat menyesuaikan diri secara unik dengan lingkungannya (Allport dalam Hurlock, 1978). Kepribadian dapat berubah dan dimunculkan dalam bentuk tingkah laku. Organisasi adalah hubungan antar traits yang selalu berubah dan diwujudkan dalam bentuk traits-traits yang dominan. Sedangkan sistam psikofisik adalah kebiasaan-kebiasaan, sikap-sikap, nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan, keadaan emosi dan dorongan-dorongan. Sistem inilah yang akan mendorong seseorang untuk menentukan penyesuaian dirinya sebagai hasil belajar atau pengalaman.

Faktor eksternal
a. Lingkungan rumah
Lingkungan rumah terutama orang tua, memegang peranan penting serta menjadi guru bagi anak dalam mengenal dunianya. Orang tua adalah pengasuh, pendidik dan membantu proses sosialisasi anak. Utami Munandar (1999) mengatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua, maka semakin baik prestasi anak. Termasuk juga sejauh mana keluarga mampu menyediakan fasilitas tertentu untuk anak (televisi, internet, dan buku bacaan).
b. Lingkungan sekolah
Menurut Ormrod (2006) lingkungan sekolah yang baik adalah lingkungan yang nyaman sehingga anak terdorong untuk belajar dan berprestasi. Ada beberapa karakteristik lingkungan sekolah yang nyaman sebagai tempat belajar (Burstyn & Stevens dalam Ormrod, 2006) , yaitu:
1) Sekolah mempunyai komitmen untuk mendukung semua usaha murid agar sukses baik dalam bidang akademik maupun sosial.
2) Adanya kurikulum yang menantang dan terarah
3) Adanya perhatian dan kepercayaan murid serta orang tua terhadap sekolah
4) Adanya ketulusan dan keadilan bagi semua murid, baik untuk murid dengan latar belakang keluarga yang berbeda, beda ras maupun etnik
5) Adanya kebijakan dan peraturan sekolah yang jelas. Misalnya panduan perilaku yang baik, konsekuensi yang konsisten, penjelasan yang jelas, kesempatan menjalin interaksi sosial serta kemampuan menyelesaikan masalah.
6) Adanya partisipasi murid dalam pembuatan kebijakan sekolah
7) Adanya mekanisme tertentu sehingga siswa dapat menyampaikan pendapatnya secara terbuka tanpa rasa takut
8) Mempunyai tujuan untuk meningkatkan perilaku prososial seperti berbagi informasi, membantu dan bekerja sama
9) Membangun kerja sama dengan komunitas keluarga dan masyarakat
10) Mengadakan kegiatan untuk mendiskusikan isu-isu menarik dan spesial yang berkaitan dengan murid
Sedangkan di kelas, sebaiknya kelas cukup besar dengan jumlah murid yang tidak terlalu banyak sehingga guru dapat memonitor setiap siswa. Kelas yang baik dan produktif adalah kelas yang nyaman secara tata ruang, memunculkan motivasi internal siswa untuk belajar, kegiatan guru yang terarah serta kegiatan monitor terhadap siswa (Gage & Berliner, 1992).

Era reformasi dan desentralisasi pendidikan menyebabkan orang bebas melakukan kritik, titik lemah pendidikan akan menjadi bahan dan sasaran empuk bagi para kritikus, adakalanya kritik yang diberikan dapat menjadi sitawar sidingin di dalam memperbaiki kinerja guru. Akan tetapi tidak tertutup kemungkinan pula akan dapat membuat merah telinga guru sebagai akibat dari kritik yang diberikan, hal ini dapat memberikan dampak terhadap kinerja guru yang bersangkutan. Apapun kritik yang diberikan, apakah bernilai positif atau negative kiranya akan menjadi masukan yang sangat berarti bagi kenerja guru. Guru yang baik tidak akan pernah putus asa, dan menjadi kritikan sebagai pemicu baginya di dalam melakukan perbaikan dan pembenahan diri di masa yang akan datang. Kritik terhadap kinerja guru perlu dilakukan, tanpa itu bagaimana guru mengetahui kinerja yang sudah dilakukannya selama ini, dengan demikian akan menjadi bahan renungan bagi guru untuk perbaikan lebih lanjut.
Indikator suatu bangsa sangat ditentukan oleh tingkat sumber daya manusianya, dan indicator sumber daya manusia ditentukan oleh tingkat pendidikan masyarakatnya. Semakin tinggi sumber daya manusianya, maka semakin baik tingkat pendidikannya, dan demikian pula sebaliknya. Oleh sebab itu indicator tersebut sangat ditentukan oleh kinerja guru.
Bila kita amati di lapangan, bahwa guru sudah menunjukan kinerja maksimal di dalam menjalan tugas dan fungsinya sebagai pendidik, pengajar dan pelatih. Akan tetapi barangkali masih ada sebagian guru yang belum menunjukkan kinerja baik, tentunya secara akan berpengaruh terhadap kinerja guru secara makro. Harapan ke depan, terbentuk sinergi baru dalam lingkungan persekolahan, dan perlu menjadi perhatian adalah terjalinnnya kinerja yang efektif dan efisien disetiap struktur yang ada dipersekolahan. Kinerja terbentuk bilamana masing-masing struktur memiliki tanggungjawab dan memahami akan tugas dan kewajiban masing-masing. Sehingga output yang dihasilkan pun akan lebih maksimal.


DAFTAR PUSTAKA


E. Mulyasa. 2006. Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Kusnandar. 2007. Guru Profesional. Jakarta: PT Raja Grafindo

Maman Ukas. 2004. Manajemen. Bandung: Agini

Muhammad Surya. Organisasi profesi, kode etik dan Dewan Kehormatan Guru.

Miftah Toha, 2003. Kepemimpinan dalam Manajemen, Jakarta: PT Raja Grafindo.

Rahman (at all). 2006. Peran Strategis Kapala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan. Jatinangor: Alqaprint.

Sadili Samsudin.2006. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: CV Pustaka Setia

Soekarto Indarafachrudi. 2006. Bagaimana Memimpin Sekolah yang efektif. Bogor: Ghalia Indonesia

Sudarwan Danim. 2002. Inovasi Pendidikan dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kepandidikan. Bandung: CV Pustaka Setia.

Syaiful Sagala. 2002. Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung : Alfabeta CV

Wahjosumidjo. 2002. Kepemimpinan Kepala Sekolah. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada